Sahabat Pertama
Saya mau nyeritain tentang pengalaman saya pertama kali memiliki sahabat semasa SD-SMP dulu. Untuk menjaga nama baiknya, walaupun saya gak rela, namanya akan saya samarkan. Banyak sekali nasib buruk yang saya dapatkan sejak bersahabat dengan dia. Selain dibenci keluarga dan sempat depresi, barang-barang kesayangan saya juga hilang dicuri dia. Mungkin dari pengalaman saya ini, para pembaca sekalian bisa memetik pelajaran supaya tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti saya.
Inisial namanya adalah CK, biasa saya panggil C. Dia itu cewek cantik bermata sipit yang cukup outgoing dan berkulit putih macam orang China. Kami kenalan saat kelas 3 SD. Pada waktu itu, doi adalah murid pindahan dan KEBETULAN karena tempat duduk di kelas sudah nggak tersisa lagi, dia jadi didudukkin bertiga bareng saya dengan temen saya. Namanya juga masih polos ya, jadi saya seneng-seneng aja dapet temen baru walaupun interaksi di antara kami minim banget karena masih canggung. Saya udah lupa gimana hari-hari pertama yang saya lalui bersama dia. Yang pasti, secara perlahan-lahan, kami tuh mulai deket dan jadi sering ngobrol banyak. Berhubung emaknya gak bisa jemput siang-siang (catatan: emaknya guru SMP), doi jadi rutin nongkrong di rumah saya setiap pulang sekolah. Keseharian saya pun jadi gak terlalu membosankan karena selalu bermain sama dia. Kami udah bagaikan lem, lengket banget ga bisa dipisahkan #plak. Tapi kalau sekarang saya pikir-pikir lagi, kenapa waktu itu saya goblok banget ya sampai malah merasa nyaman deket-deket sama dia terus? Padahal saya tau saya bakalan menyesal.
Flashback sebentar, saya ini pas TK ceria banget orangnya. Setiap ketemu orang baru, mau itu tua atau muda #loh, pasti saya ajakin temenan. Entah gimana ceritanya, sejak masuk SD, kepribadian saya berubah 180 derajat. Saya jadi luar biasa pendiem. Hampir nggak pernah ngobrol sama temen sekelas malah, cuma ke orang-orang tertentu doang. Walhasil saya ditindas deh di sana sama cewek-cewek dan guru di kelas. Sampai sekarang pun saya masih dendam. Seiring waktu berjalan, saya masih stuck ga membuat perubahan sedikitpun. Sifat pendiam saya justru bertambah parah sehingga menjadi bahan gosipan guru-guru SD. Barulah ketika doi hadir, saya merasa seolah-olah saya kembali ke diri saya yang lama. Bisa dibilang, punya temen supel kayak dia tuh merupakan suatu keberuntungan. Berkat doi, saya menjadi dekat dengan beberapa cewek di kelas saya dan seorang cowok polos dari kelas sebelah. Itulah sebabnya mengapa saya waktu SD itu keras kepala banget ga mau dipisahin sama doi lol. Back to story, tanpa disadari waktu telah bergilir hingga kelas 5 SD. Hubungan kami masih selengket lem. Namun oleh beberapa alasan, saya mulai berpikir untuk "memutuskan" hubungan kami.
Tentu saja kalian mengerti hal ini. Semakin dekat kita dengan seseorang, semakin tampak juga "sikap asli" kita yang sesungguhnya. Saya yang semula selalu memendam rasa kekesalan saya terhadap dia, sekarang sudah mulai nunjukkin secara frontal. Doi juga tingkah lakunya semakin semena-mena seakan saya adalah bank berjalan. Sebentar-sebentar, pinjam uang. Sebentar-sebentar, minta ditraktirin makanan. Saya terlalu buta saat itu sampai-sampai rela mencuri uang emak saya hanya demi mencukupi kemauan dia aja (kalian bebas menyumpahi saya karena saya memang sudah keterlaluan). Setiap main ke rumah saya juga, doi bertingkah seakan-akan itu rumahnya sendiri. Bukan hanya itu aja, barang-barang saya pun menghilang satu persatu. Mulai dari buku tulis, pulpen, komik, sepatu, dompet, HP, bahkan uang. Saya masih mencoba berpikir positif. Siapa tau tinggal di rumah gitu, kan. Siapa tau sayanya yang kelupaan naruh di mana. Walaupun jauh di lubuk hati terdalam, saya seakan tahu siapa pelakunya.
Tentu saja kalian mengerti hal ini. Semakin dekat kita dengan seseorang, semakin tampak juga "sikap asli" kita yang sesungguhnya. Saya yang semula selalu memendam rasa kekesalan saya terhadap dia, sekarang sudah mulai nunjukkin secara frontal. Doi juga tingkah lakunya semakin semena-mena seakan saya adalah bank berjalan. Sebentar-sebentar, pinjam uang. Sebentar-sebentar, minta ditraktirin makanan. Saya terlalu buta saat itu sampai-sampai rela mencuri uang emak saya hanya demi mencukupi kemauan dia aja (kalian bebas menyumpahi saya karena saya memang sudah keterlaluan). Setiap main ke rumah saya juga, doi bertingkah seakan-akan itu rumahnya sendiri. Bukan hanya itu aja, barang-barang saya pun menghilang satu persatu. Mulai dari buku tulis, pulpen, komik, sepatu, dompet, HP, bahkan uang. Saya masih mencoba berpikir positif. Siapa tau tinggal di rumah gitu, kan. Siapa tau sayanya yang kelupaan naruh di mana. Walaupun jauh di lubuk hati terdalam, saya seakan tahu siapa pelakunya.
Frustrasi sekali saya. Sudah capek-capek menabung demi beli komik, uangnya malah hilang. Sudah capek-capek ngerawat benda kesayangan baik-baik, eh dijambret juga. Akhirnya saya pun mulai curiga sama doi karena...kenapa hanya saat dia dateng ke rumah saya doang, barang saya selalu hilang? Suatu hari, saya mendapati buku tulis beserta hp kakak saya berada di dalam tas sekolah dia. Dompet pun juga ada. Saya syok bukan main. Rasanya tuh...hati saya langsung hancur berkeping-keping. Tapi berhubung saya ini kebegoannya sudah melampaui standar orang normal, pas dia nangis-nangis minta maaf kayak adegan di sinetron, saya maafkan aja dengan entengnya. Saya berusaha nggak memperpanjang urusan itu, bersikap seolah ga ada yang pernah terjadi biar bisa berbaikan. Bego, 'kan? Keputusan yang salah banget karena bikin doi semakin belagu.
Dia adalah orang yang toxic. Bagaimana pun, berhubungan sama orang sepertinya hanya berdampak buruk saja pada saya. Kami resmi putus ketika saya masuk SMA. Berawal dari meledaknya emosi saya yang sudah lama sekali saya pendam hingga berujung pada pertengkaran saya dengan doi di BBM. Doi galak di BBM doang tapi kalau ketemuan empat mata udah kayak tikus kejepit wkwk. Saya sudah muak dikata-katain keluarga saya mulu di rumah, makanya saya 'terjang' doi biar mau ngakuin kesalahannya. And guess what? Doi justru memposisikan dirinya sebagai korban! Malah sayanya yang diomelin karena seakan-akan nyudutin dia sebagai tersangka. Yah, namanya aja penjahat, mana mau ngaku kecuali disiksa secara kejam? Dikarenakan argumen kami gak maju-maju, jadilah saya memutuskan untuk putus sepihak dengannya. Untuk apa juga dipertahanin? Toh, kalau saya gak keburu ngelepasin diri, yang ada daftar barang-barang hilang di rumah saya makin bertambah.
Dia adalah orang yang toxic. Bagaimana pun, berhubungan sama orang sepertinya hanya berdampak buruk saja pada saya. Kami resmi putus ketika saya masuk SMA. Berawal dari meledaknya emosi saya yang sudah lama sekali saya pendam hingga berujung pada pertengkaran saya dengan doi di BBM. Doi galak di BBM doang tapi kalau ketemuan empat mata udah kayak tikus kejepit wkwk. Saya sudah muak dikata-katain keluarga saya mulu di rumah, makanya saya 'terjang' doi biar mau ngakuin kesalahannya. And guess what? Doi justru memposisikan dirinya sebagai korban! Malah sayanya yang diomelin karena seakan-akan nyudutin dia sebagai tersangka. Yah, namanya aja penjahat, mana mau ngaku kecuali disiksa secara kejam? Dikarenakan argumen kami gak maju-maju, jadilah saya memutuskan untuk putus sepihak dengannya. Untuk apa juga dipertahanin? Toh, kalau saya gak keburu ngelepasin diri, yang ada daftar barang-barang hilang di rumah saya makin bertambah.
Itu adalah kali pertama saya ngerasain gimana rasanya 'buta' dalam mencintai seseorang. Saya tau dia ini pencuri, bahkan saat saya sakit aja doi justru memanfaatkan kesempatan menjenguk itu buat maling tabungan saya. Saya juga merasa terbebani oleh rasa bersalah karena bukan hanya barang saya aja yang diembatnya, tapi juga barang keluarga saya yang lain. Dia pun terlalu nempel ke saya macam parasit. Bayangin aja, setiap hari doi main ke rumah saya. Kapan saya bisa punya waktu istirahat, coba? Saya tau dia ini kalau ada apa-apa, sukanya ngemis-ngemis uang sama saya. Kalau lagi jajan mie pun pasti minta saya yang traktirin. Dasar kambing. Sekali lagi, berhubung saya begonya gak ketulungan, saya mau-mau aja asalkan bisa bersama dia. Padahal saya tau semua keburukannya itu. Entah sudah berapa kali saya dimarahin karena kakak saya sendiri muak luar biasa ngehadapin sikap kurang ajarnya doi. Tapi of course, nasehat itu saya abaikan hanya karena saya merasa dia ini orangnya asyik dan saya udah gak punya siapa-siapa buat dijadikan tempat bersandar. Padahal sendirian justru lebih baik dibandingkan bersama dengan orang toxic kayak dia. Seandainya aja saya waktu itu menyadari kesalahan saya lebih cepat, mungkin baju kesayangan saya gak bakal diembat. Mungkin uang saya masih berlimpah. Mungkin aja saya gak bakal dibenci kakak pertama saya karena power banknya hilang dicuri doi. Mungkin aja emak saya jadi gak curigaan lagi sama saya setiap kali saya bawa-bawa temen ke dalem rumah.
Begitulah pengalaman dari saya. Semoga kalian nggak sebego saya dan mau memutuskan hubungan sama orang toxic kayak doi. Buat apa dipertahanin kalau ujung-ujungnya cuma menambah beban kalian aja? Hidup ini bukan kayak cerita di Otome, yang bisa bikin kita mengubah seseorang dari jahat menjadi baik hanya dalam beberapa hari doang. Ada orang yang emang udah dari sononya bajingan. Mungkin memang nggak mustahil, tapi perbandingannya tuh satu banding seribu. Tinggalkan aja kalau tingkahnya sudah semena-mena terhadap kamu. Saya sendiri nyesel udah nganggep dia sebagai *uhuk* sahabat *uhuk* terbaik *uhuk* semasa SD itu. Sahabat macam apa yang padahal sudah tahu itu barang kesayangan tapi tetep dicuri? Andai aja waktu bisa diputar balik, saya pengen banget ngebikin 'saya di masa itu' ga temenan apalagi sahabatan sama dia. Ga bakalan! So please, jangan mau nasib kalian berakhir na'as kayak saya. Kalau kalian menyadari diri kalian saat ini persis 100% seperti saya, tolonglah jangan keep stay like a doormat. Dia mau sakit hati atau apa kek, itu bukan urusanmu. Berita bagus apabila doi kena tabrak di bagian tubuh yang sering doi gunakan untuk melakukan kejahatan. Jangan sampai malah kamu yang rugi dan hancur sedangkan dia bahagia.
Komentar
Posting Komentar